Berbagi info berita terbaru, seru, unik, aneh, misteri, religi terbaru

Misteri Penyakit Autisme Dibalik Kejeniusan Einstein

Misteri Penyakit Autisme Dibalik Kejeniusan Einstein - Psikiater menyebut banyak figur penting di bidang ilmu pengetahuan, politik maupun seni menggapai kesuksesan karena mereka mengidap penyakit autisme.



Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.

Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993).


Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:


Autism, Repetitively stacking or lining up objects is a behavior occasionally associated with individuals with autism.(wikipedia)


Quote:
• interaksi sosial,
• komunikasi (bahasa dan bicara),
• perilaku-emosi,
• pola bermain,
• gangguan sensorik dan motorik
• perkembangan terlambat atau tidak normal.
Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun. (wikipedia)

Profesor psikiatri di Trinity College Dublin, Michael Fitzgerald mengungkapkan bahwa karakteristik yang berkaitan dengan Autism Spectrum Disorders (ASDs) memiliki kesamaan dengan unsur pendukung kreativitas jenius.



Prof Fitzgerald menyebutkan Isaac Newton, Albert Einstein, George Orwell, H.G Wells dan Ludwig Wittgenstein sebagai contoh beberapa individu brilian terkenal dan menunjukkan ciri ASD termasuk Asperger syndrome.

Sindrom Asperger (bahasa Inggris: Asperger syndrome, Asperger’s syndrome, Asperger’s disorder, Asperger’s atau AS) adalah salah satu gejala autisme di mana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga kurang begitu diterima.


Sindrom ini ditemukan oleh Hans Asperger pada tahun 1944.


Sindrom Asperger dibedakan dengan gejala autisme lainnya dilihat dari kemampuan linguistik dan kognitif para penderitanya yang relatif tidak mengalami penurunan.


Bahkan dengan IQ yang relatif tinggi atau rata-rata, ini berarti sebagian besar penderita sindrom Asperger bisa hidup secara mandiri, tidak seperti autisme lainnya. Sindrom Asperger juga bukanlah sebuah penyakit mental. (wikipedia).


Tidak hanya itu, Beethoven, Mozart, Hans Christian Andersen dan Immanuel Kant juga didiagnosis Asperger.


“Kelainan psikiatri juga dapat memiliki dimensi yang positif. Saya percaya gen autisme atau asperger serta kreativitas pada dasarnya sama.”


“Kita tidak mengetahui gen mereka secara pasti dan berapa banyak, namun kita bebicara soal gen ganda. Setiap kasus begitu unik karena setiap orang memiliki tingkat gen yang terlibat berbeda-beda,” ujar Prof Fitzgerald.


Fitzgerald seperti dikutip dari Telegraph juga menyebutkan bahwa gen ini menyebabkan seseorang memiliki fokus yang tinggi, tidak cocok dengan sistem sekolah dan seringkali kesulitan menjalin hubungan sosial dan kontak mata.


Mereka juga cenderung paranoid dan bertentangan dengan orang lain, serta memiliki moral dan etika yang tinggi.


“Mereka mampu bertahan dalam topik tertentu selama 20 hingga 30 tahun tanpa terganggu dengan pikiran orang lain. Mereka dapat menghasilkan sesuatu dalam satu jangka waktu sebanding dengan pekerjaan tiga hingga empat orang,” ujar psikiater ini.



Sifat-sifat seperti kebutuhan akan dominasi serta kontrol merupakan kunci kesuksesan dari Charles de Gaulle yang terkenal dengan ucapannnya “I am France”, mantan presiden AS Thomas Jefferson dan Enoch Powell.

Contoh lain, ujar Fitzgerald, penulis fiksi ilmiah H.G Wells yang digambarkan psikiater tersebut sebagai antisosial, pengontrol, kesepian dan ketidakdewasaan emosional.


Prof Fitzgerald menyampaikan kesimpulannya setelah membandingkan karakteristik sekitar 1600 orang yang didiagnosa memiliki ASD dan orang terkenal.


Dia menyebutkan bahwa ahli filosofi asal Austria, Ludwig Wittgenstein menampilkan berbagai pengidap Asperger mampu bekerja dalam jangka waktu yang lama menyangkut topik tertentu, tanpa menghiraukan sudut pandang orang lain.



Isaac Newton misalnya, dikenal bekerja tanpa henti selama 3 hari tanpa peduli siang malam, dan sering lupa makan.

Tidak hanya itu, Einstein sendiri merumuskan sesuatu di ruang pribadinya karena ia terlalu ‘mengganggu’ untuk mendapatkan pekerjaan di universitas.


Buku Prof. Fitzferald berjudul Genius Genes: How Asperger Talents Changed the World telah dipublikasikan akhir tahun 2010 lalu. Diperkirakan penderita ASD mencapai sekitar 60 hingga 120 kasus setiap 10 ribu orang.


Amanda Batten dari National Autistic Society mengatakan, “Penting untuk menghindari labelisasi seseorang yang mengidap autisme sebagai orang jenius atau apapun, karena setiap orang memiliki karakteristik individu dengan kekuatan dan kebutuhan tersendiri.” (
sumber)

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Kategori:

ARTIKEL TERKAIT : Misteri Penyakit Autisme Dibalik Kejeniusan Einstein