Berbagi info berita terbaru, seru, unik, aneh, misteri, religi terbaru

Sejarah Hari Raya Idul Adha Umat Islam Secara Singkat dan Lengkap

Sejarah Hari Raya Idul Adha Umat Islam Secara Singkat dan Lengkap - Idul Adha merupakan salah satu dari dua hari raya besar umat islam. Hari Raya Idul Adha juga disebut sebagai hari raya idul qurban. Bagi Anda yang belum tahu tentang sejarah hari raya idul adha, kali ini Serunik.com akan memberikan informasi tentang sejarah idul adha, sejarah hari raya idul adha, sejarah idul adha nabi ibrahim, sejarah idul adha/qurban, sejarah perayaan idul adha, sejarah singkat hari raya idul adha. Untuk lebih jelasnya simak ulasan tentang sejarah idul adha berikut ini.

Peristiwa awal adanya idul adha atau idul qurban adalah bermula kepada Nabi Ibrahim as dan keluarganya dengan pengorbanan demi pengorbanan yang di laluinya. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari seorang ayah melebihi pengorbanan agar meninggalkan putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan oleh Nabi Ibrahim as dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah yaitu seruan dakwah. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an dalam surat Ibrahim 37

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

 “Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”

Disebutkan dalam riwayat, ketika Nabi Ibrahim AS akan meninggalkan putranya Ismail as dan istrinya siti Hajar, saat itu dalam kondisi menyusui. Dan ketika Nabi Ibrahim as meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah dari keduanya, siti Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim AS dan berkata, “Wahai Ibrahim mau pergi ke mana, engkau meninggalkan kami di sini dan tidak ada yang mencukupi kebutuhan kami?”. Nabi Ibrahim tidak menjawab, dan ketika siti Hajar terus-menerus memanggil sedang Nabi Ibrahim tidak menjawab, siti Hajar berkata, “Apakah Allah yang menyuruhmu seperti ini? Nabi Ibrahim as menjawab, “Ya’. Siti Hajar berkata, “Kalau begitu pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita”.

Dan puncak dari pengorbanan itu, manakala datang perintah yang lebih tidak masuk akal lagi dalam segi logika dari sebelumnya, yaitu perintah untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS. Hal ini pasti tidak akan bisa di lakukan oleh orang yang Imannya belum sempurna.

Ketika Nabi Ismail berusia 9 tahun (ada yang mengatakan 13 tahun), pada waktu itu bertepatan pada malam tanggal 8 Zulhijjah, Nabi Ibrahim tidur dan bermimpi. Dalam mimpi tersebut, seseorang berkata kepada beliau “Wahai Ibrahim, tepatilah janjimu !”. Setelah terbangun pada pagi hari, berliau berpikir dan mengangan-angan, dan berkata pada dirinya “Apakah mimpi itu dari Allah ataukah dari setan ?”.

Pada malam harinya beliau tidur dan bermimpi seperti mimpi yang pertama. Setelah terbangun pada keesokan hari, beliau mengetahui bahwa mimpi tersebut adalah benar-benar berasal dari Allah. Peristiwa itu bertepatan pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Kemudian pada malam harinya beliau bermimpi lagi dengan mimpi yang sama seperti sebelumnya. Setelah terbangun pada keesokan hari, beliau baru menyadari bahwa mimpi tersebut adalah benar-benar suatu perintah Allah SWT untuk menyembelih putra beliau, Ismail. Mimpi ketiga bertepatan pada tanggal 10 Zulhijjah.

Ketika Nabi Ibrahim akan mengajak putranya untuk disembelih, beliau berkata kepada Hajar “Pakaikanlah anakmu dengan pakaian yang bagus, karena sesungguhnya aku akan pergi bersamanya untuk bertamu !”. Hajar pun memberi Ismail pakaian bagus, memberinya wangi-wangian, dan menyisir rambutnya. Kemudian Nabi Ibrahim pergi bersama Ismail dengan membawa sebuah pisau besar dan tali ke arah tanah Mina.

Melihat pemandangan itu, Iblis sibuk dan gugup, datang dan kembali. Ia menemui, menggoda dan berusaha keras agar penyembelihan tersebut gagal. Tatkala Ismail sedang berlari-lari di depan ayahnya, Iblis berkata kepada Nabi Ibrahim, “Apakah kamu tidak melihat tegaknya anakmu ketika ia berdiri, ia begitu tampan, dan lembut tingkah lakunya!”.

Nabi Ibrahim menjawab “Iya, tetapi aku diperintah untuk menyembelihnya!”. Iblis pun tak mampu menggoda Nabi Ibrahim. Kemudian ia pergi menemui Hajar, dan berkata “Wahai Hajar, bagaimana bisa kamu hanya duduk disini sedangkan Ibrahim pergi bersama anaknya untuk menyembelihnya !”.

Hajar berkata “Kamu jangan dusta kepadaku, mana ada seorang ayah yang tega menyembelih putranya ?”. Iblis menjawab “Lalu untuk apa Ibrahim membawa pisau besar dan tali !”. Hajar kembali bertanya “Untuk alasan apa ia menyembelihnya ?”. Iblis menjawab “Ia menyangka bahwa tuhannya telah memerintahkannya untuk meyembelih anaknya!”. Hajar berkata “Seorang nabi tidak diperintahkan untuk kebatilan dan aku akan selalu percaya padanya. Nyawaku sebagai tebusan atas perkara itu, maka bagaimana dengan anakku (tentu ia pun demikian) !”.

Iblis tidak mampu menggoda Hajar. Kemudian ia pergi menemui Ismail dan mengatakan, “Kamu sangat senang bermain-main, tetapi ayahmu membawa pisau besar dan tali, ia akan menyembelihmu !”.

Nabi Ismail menjawab “Kamu jangan berbohong kepadaku, ayahku tidak akan menyembelihku !”. Iblis berkata meyakinkan Ismail, “Ia menyangka bahwa tuhannya telah memerintahkannya untuk menyembelihmu !” Nabi Ismail berkata “Aku akan selalu tunduk dan taat terhadap perintah tuhanku !”.

Saat Iblis akan melontarkan perkataan lain untuk meggodanya, Nabi Ismail mengambil batu-batu dan melemparkannya kepada Iblis sehingga mengenai mata kiri Iblis. Kemudian Iblis pun pergi dengan kecewa dan putus asa.

Setelah sampai di tanah Mina, Nabi Ibrahim berkata kepada putranya, dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102 :
يا بني إني ارى في المنام أني اذبحك فانظر ماذا ترى

Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu.
Maksudnya adalah Nabi Ibrahim meminta pendapat putranya, bagaimana pendapat Ismail menyikapi mimpi tersebut. Mimpi seorang nabi adalah haq dan benar. Ismail pun menjawab sesuai dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102 :
يا أبت افعل ما تؤمر ستجدني ان شاء الله من الصابرين

Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, Insya’allah engkau akan menemuiku termasuk orang-orang yang sabar
Ketika Nabi Ibrahim mendengarnya, beliau menyadari bahwa Allah telah mengabulkan do’anya, sebagaimana termaktub dalam Surat Ash-Shaffat ayat 100 :
رب هب لي من الصالحين

Ya Tuhanku, anugrahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang sholeh
Kemudian beliau memuji Allah. Kemudian Ismail berkata “Wahai ayahku, aku berwasiat kepadamu beberapa perkara. Ikatlah tanganku dengan kencang agar aku tidak goyah karena itu akan menyakitkanku. Letakkan wajahku di atas bumi agar engkau tidak memandangku sehingga engkau merasa kasihan. Tutuplah pakaianmu dariku agar darahku tidak mengotorinya sehingga ibuku tidak melihatnya, karena itu akan membuatnya sedih. Tajamkanlah bibir pisau besarmu dan percepatlah dalam menyembelih leherku agar terasa lebih ringan karena sesungguhnya kematian itu sangat menyakitkan. Berikanlah pakaianku kepada ibuku sebagai pengingat diriku. Sampaikan salam dariku dan katakana padanya “bersabarlah atas perintah Allah”. Jangan engkau menceritakan kepada ibuku bagaimana engkau menyembelih dan mengikat tanganku. Jangan engkau membawa bocah kepada ibuku agar ia tidak semakin bersedih. Jika engkau melihat seorang bocah sepertiku, maka jangan engkau terus memandanginya sampai engkau bersedih.” Nabi Ibrahim berkata “Baiklah, semoga pertolongan selalu menyertaimu atas perintah Allah, wahai anakku !”.

Allah berfirman dalam Surat Ash-Shoffat ayat 103 :
فلما اسلما وتله للجبين

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya
Nabi Ibrahim membaringkan putranya untuk disembelih seperti layaknya kambing sembelihan. Dan kejadian itu terjadi di atas batu besar di Tanah Mina. Nabi Ibrahim meletakkan pisau besar besarnya di leher putra beliau, kemudian menyembelihnya di atas leher Ismail dengan kuat. Tetapi atas kehendak Allah pisau tersebut tak mampu memotong leher Ismail, bahkan menggoresnya pun tidak.

Allah membuka tutup mata dari semua malaikat langit dan bumi, sehingga mereka mengetahui kejadian tersebut. Kemudian mereka berlutut dan bersujud kepada Allah. Kemudian Allah berkata “Lihatlah kalian semua kepada hambaku bagaimana ia menebaskan pisau besar pada leher anaknya karena mengharap ridlo-Ku, sedangkan kalian berkata ketika Aku berkata :
اني جاعل في الأرض خليفة : اتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك

[Allah berfirman] Sesungguhnya aku akan menjadikan seorang kholifah di atas bumi. [Malaikat berkata] Mengapa Engkau akan menjadikan di bumi orang yang akan berbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami selalu bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu.
Ismail berkata “Wahai ayahku, engkau telah melemahkan kekuatanmu karena cinta kepadaku sehingga engkau tidak kuasa untuk menyembelihku”.

Kemudian Nabi Ibrahim menebaskan pisau besarnya pada batu dan batu tersebut terbelah menjadi dua. Nabi Ibrahim berkata terheran-heran “Pisau ini bisa memotong batu tetapi tidak bisa memotong daging”.

Namun atas kuasa Allah pula, pisau tersebut pun tiba-tiba dapat berkata “Wahai Ibrahim, kamu mengatakan potonglah, tetapi tuhan semesta alam berkata jangan potong. Maka bagaimana aku melaksanakan perintahmu yang berlawanan dengan perintah tuhanmu”. Pisau tersebut tidak dapat memotong leher Ismail karena Allah telah memerintahkan untuk tidak memotongnya walaupun Nabi Ibrahim berkata potonglah.

Dalam Surat Ash-Shaffat ayat 104-106, Allah berfirman:
وناديناه ان ياابراهيم, قد صدقت الرؤيا انا كذلك نجزي المحسنين, ان هذا لهو البلاء المبين

Dan Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim” (104) Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105) Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata (106)
Semua kejadian tersebut merupakan ujian yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim. Kemudian Allah berfirman dalam Surat Ash-Shoffat ayat 107 :
وفديناه بذبح عظيم

Dan Kami tebus (ganti) anak itu dengan seekor sembelihan yang besar
Malaikat Jibril pun datang dengan membawa seekor domba yang besar. Domba tersebut merupakan domba kurban Habil, putra Nabi Adam as yang masih hidup dalam surga. Kemudian domba tersebut dijadikan tebusan atau mengganti tubuh Ismail. Malaikat Jibril datang dan melihat Nabi Ibrahim berusaha memotong leher putranya. Dengan rasa ta’dhim (hormat) dan terheran atas Nabi Ibrahim, Malaikat Jibril bertakbir :
الله اكبر الله اكبر الله اكبر

Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar

Kemudian Nabi Ibrahim menyahut :

لااله الا الله والله اكبر

Tidak ada tuhan (yang hak untuk disembah) kecuali Allah, dan Allah Maha Besar

Ismail pun mengikuti nya dengan membaca takbir dan tahmid:

الله اكبر ولله الحمد

Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah
Allah telah mejadikan kebaikan atas kalimat-kalimat tersebut sehingga kalimat takbir, tahlil dan tagmid tersebut senantiasa berkumandang dalam setiap Idul Kurban, tanggal 10 Zul ijjah yaitu Hari Raya Idul Adha. Imam Hanafi berkata bahwa jika seseorang bernazar (berjanji pada diri sendiri) untuk menyembelih anaknya, maka hendaklah ia menggantinya dengan seekor kambing atau domba. (Dikutip dari Kitab Durrotun Nashihin karangan Syekh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khoubawi, hal. 179-181).

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109(

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”(QS As-Shaafaat 102-109).

إن الله وملآئكته يصلون على النبى يآأيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما : اللهم صل وسلم على هذا النبى الكريم والرسول العظيم سيد الغر المحجلين نبينا وشفيعنا وقرة أعيننا محمد وعلى آله وصحبه وأنصاره وجنوده ومن أحيى سنته وسلك سبيله ونهج منهجه وجاهد فى الله حق جهاده

Demikianlah artikel tentang sejarah hari raya idul adha umat islam. Semoga artikel diatas bisa menambah wawasan dan pengetahuan Anda. Baca juga Alasan Ilmiah Kenapa Manusia Melihat Cahaya Menjelang Ajal Kematian.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Kategori:

ARTIKEL TERKAIT : Sejarah Hari Raya Idul Adha Umat Islam Secara Singkat dan Lengkap