Berbagi info berita terbaru, seru, unik, aneh, misteri, religi terbaru

Misteri Suara Pertempuran di Gunung Lawu

Misteri Suara Pertempuran di Gunung Lawu - Gunung Lawu yang pada Minggu (18/10/2015) mengalami kebakaran di kawasan hutannya boleh dikatakan populer di kalangan pendaki gunung. Di balik kepopulerannya, gunung kelima tertinggi di Indonesia itu menyimpan banyak kisah misteri, salah satunya adalah suara aneh serupa dengan deru pertempuran di masa kerajaan.

penampakan di gunung lawu

Gunung Lawu juga dikenal dengan tempat-tempat yang disakralkan masyarakat. Itu terlihat saban malam satu Suro, di mana banyak terlihat orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak.

Sebelum puncak gunung, terdapat lapangan bernama Bulak Peperangan. Konon katanya, tempat ini merupakan tempat peperangan kerajaan Majapahit pimpinan Brawijaya V dengan kerajaan Demak yang dipimpin Raden Patah.

Menurut cerita masyarakat, jika malam hari kemah di Bulak Peperangan bisa mendengarkan suara pertempuran.

Tak hanya itu, sepanjang perjalanan banyak ditemukan tempat-tempat unik. Seperti Pasar Dieng misalnya. Orang menyebutnya juga pasar Setan. Pasar Dieng merupakan batu-batu yang banyak yang menyerupai pasar. Warga juga menyebutnya dengan pasar setan.

“Saat malam dan berkabut suasananya seperti setan, terdengar suara-suara dan lapak-lapak yang seperti orang jual beli,” kata pendaki gunung yang pernah naik Gunung Lawu, Arief.

Jalur menyesatkan

Sebenarnya, tidak disarankan lewat pasar setan malam hari. Jalurnya sedikit menyesatkan. Dengan rambu yang tidak jelas, pendaki disarankan untuk memperhatikan beberapa tanda dan membuat jejak di pasar setan ini agar tidak tersesat.

Meski jalur pendakian sudah terbentuk untuk memudahkan para pendaki, namun peziarah maupun pendaki disarankan untuk tetap memperhatikan aturan-aturan atau pantangan yang berlaku selama pendakian.

“Pantangannya antara lain tidak boleh bicara kotor selama dalam perjalanan dan dilarang mengeluh, apapun kondisinya. Jika sudah capek lebih baik istirahat saja, jangan malah mengeluh,” ujarnya.

Selain itu dalam soal pakaian juga ada pantangannya. Jika naik gunung ini tidak boleh memakai ikat kepala warna hitam dengan hiasan batik melati. Tidak boleh memakai kain sutra warna hijau muda.

Pendaki juga akan menjumpai Sendang Derajat yang kerap dirituali oleh komunitas tertentu. Namun tempat ini juga digunakan bagi para pendaki untuk mengisi ulang botol mereka.

Di dekat sendang, terdapat beberapa bilik setinggi dada orang dewasa yang terbuat dari bata bersemen. Di tempat itu para pendaki bahkah peziarah mengguyurkan air yang mereka ambil dari sendang untuk ritual mandi.

“Konon air tersebut memiliki manfaat rezeki, keberkahan, jodoh, pangkat dan drajat. Tak heran jika sendang ini disebut Sendang Drajat,” tambah Arif sebagaimana dikutip VivaNews.

Mata air suci ini dahulunya adalah tempat pemandian Raja Brawijaya V. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, apabila para pengunjung mempunyai cita-cita atau niat tertentu dapat terkabul apabila mandi di sendang ini.

Selain Sendang Drajat, ada beberapa situs lain yaitu Sumur Jalatunda. Sumur ini merupakan sebuah gua vertikal sedalam lima meter yang dipakai untuk bertapa. Gua ini dipercaya sebagai tempat Raja Brawijaya V menerima wangsit dalam perjalanan naik ke Puncak Lawu.

Hargo Dalem, sekitar 15 menit perjalanan dari Sendang Drajat, merupakan tempat peristirahatan Raja Brawijaya V. Di sini terdapat bangunan khusus yang digunakan untuk berdoa atau moksa. Suasana mistis begitu terasa di tempat ini.

Hargo Dumilah yang menjadi tujuan utama para pendaki adalah puncak tertinggi Gunung Lawu (3265m dpl). Puncak ini juga dipercaya sebagai tahta Raja Brawijaya V. Namun sebelum menuju Hargo Dumilah, ada satu warung yang terkenal di kalangan pendaki, yakni warung Mbok Yem.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Kategori:

ARTIKEL TERKAIT : Misteri Suara Pertempuran di Gunung Lawu